Rizal “Romanovitch” Maslan

August 15, 2008

MERDEKA………..!!!

Filed under: Album Foto, Catatan Harian — rizalmaslan @ 6:46 pm

Merdeka..!!! Pekik para pejuang kemerdekaan di tahun 1945 selalu kita ingat menjelang peringatan Hari Proklamasi 17 Agustus. Semua orang, yah yang pasti yang masih merasa sebagai orang Indonesia beragam menyikapi hari kemerdekaan ini, ada yang sibuk mengisi berbagai acara bahkan ada yang super cuek nggak ngapa-ngapain, malah ada yang lupa hari kemerdekaan hehehe…kali!!

Ada cerita agak mengesankan bagi, saya dan teman-teman tentang pekik “Merdeka…!!!” ini. Ceritanya di tahun 2003 silam, tepatnya antara bulan Mei sampai Juni, saya dan sejumlah jurnalis ibukota di kirim ke Nanggroe Aceh Darussalam guna meliput ‘konflik’ jarak dekat dengan diberlakukannya Darurat Militer.

Pekik ‘Merdeka’ itu punya makna lain di wilayah yang katanya “Serambi Mekah” itu. Hampir dua bulan suasana ‘konflik’ kalau tak mau disebutkan ‘perang’ di sana, kita malah justru harus hati-hati memekikan kata ‘Merdeka…!’ hehehe….puluhan ribu tentara (TNI) dan Polri disebar di seluruh pelosok Aceh.

Setiap jengkal jalanan, kira-kira setiap 1 km berdiri pos-pos TNI dan Polri. Di pos-pos itu banyak diisi prajurit yang mengenakan pakaian loreng, rompi anti peluru, helm baja dan lengkap membawa senjata laras panjang SS1, M16 atau M5 minimi, atau GLM….ya mirip liat film perang vietnam “tour of duty” or perang di timur tengah.

Bagi sebagian dari kita mungkin kehidupan yang serba menegangkan dan penuh tekanan ini nggak nyaman. Ngak senyaman hidup di Jakarta yang tentram, damai dan hiruk pikuk kehidupan yang dibilang 24 jam ini. Di Aceh, orang sudah lengang sejak siang, semakin kayak kuburan kalo malamnya hehe….(ini saat Darurat Militer).

Sebenarnya bayangan itu ternyata tidak benar 100 persen, toh kita masih nyaman untuk jalan-jalan, walau hilir mudik kendaraan tempur di jalanan. Bang Halim asli Bireuen mengatakan, “Tak usah takut, lambaikan saja tangan, pasti aman,” jelasnya.

Ya praktis selama tugas jurnalistik di sana, setiap papasan dengan tentara dan polisi di pos-pos itu kita melambaikan tangan…biasanya, mereka membalasnya dengan senyum…ya sekedar membuat mereka tersenyum, kita harus berkorban menempelkan tangan di kaca mobil atau mengeluarkan lengan menyapa.

Singkat kata, ini sudah menjadi kebiasaan kita di sana…tanpa ba bi bu lagi, begitu liat dan yang memiliki inisiatif secara sepontan melambaikan tangan. Ada yang lucu sebenarnya, saat itu kita (saya, Ade yang saat itu wartawan the Jakarta Pos/sekarang di Van Jorg Magazine, Heru KompasCyber, Citra Radio68H dan Alex Suban Suara Pembarua dan Bertho)  asyik mengobrol dan melucu sepanjang perjalanan saat pulang dari Pidie menuju Lhokseumawe.

Entah karena asyik ngobrol dan bercanda, kita nggak perhatikan banyak tentara yang bergerombol di sepanjang jalan dan pematang sawah. Tiba-tiba bang Halim teriak ada tentara…tentunya kita terkejut dan repleks kita langsung melambaikan tangan.

Namun Ade tak hanya melambaikan tangan tapi juga langsung teriak dengan pedenya kata “Merdeka” itu. Saat itu, sejumlah prajurit TNI yang hendak membalas lambaian tangan itu, malah celangak-celingkuk dan saling pandang.

Tangan mereka yang tadinya mau diangkat untuk membalas lambaian tak jadi dilakukan. Raut wajah para ‘PAI’ (sebutan orang Aceh, khususnya GAM kepada anggota TNI)  terlihat bingung. Heru langusng nyeletuk…”Ade begooo…” sambil terkekeh-kekeh…semua yang ada di dalam mobil ketawa kecut, apalagi beberapa tentara menghampiri untuk menyelidiki.

“Ayo salah ya….Merdeka, emang kita GAM,” ujar salah seorang anggota TNI yang kita tahu dari tanda pangkatnya mungkin komandan kompi. Memang kita baru ingat, kata “merdeka’ di aceh menjadi lain, mungkin tabu diucapkan secara sembarangan, maklum biasanya yang mengucapkan kata itu akan dicap “pendukung pemberontak”.

“Aduuuhh…maaf Pak, lupa kalau kita lagi di Aceh,”…kata si Ade…melihat sikap cewek satu ini kita malah tertawa sepuasnya…”Yo wis ora opo-opo mbak…maklum, kita aja mau balas bingung, mau kemana emang?” tanya perwira itu.

“Pulang ke Lhok Pak,” jawab kami serempak.

“Ya udah, silakan jalan, ati-ati. Kalau ada GAM kasih tau kita,” pintanya lagi sambil tersenyu….”Siap.>!!” teriak kami serempak sambil tertawa lagi….akhirnya tentara2 itu pun melambaikan tangan secara penuh…

August 1, 2008

Kisah Sepotong Kain Putih

Filed under: Album Foto, Catatan Harian — rizalmaslan @ 9:41 pm

 Abu Rifa

Hari ini ada ribuan gulung kain, diperjual-belikan di pasar-pasar di kota ini,
Hari ini ada sedemikian banyak kain putih, yang sedang dibeli, diukur dan dipotong,
Hari ini ada sedemikian banyak kain putih yang siap digunakan sebagai kain kafan,
Hari ini ada sedemikian banyak kain kafan yang seolah bertanya untuk siapa ia akan dibeli.

Esok hari, siapa gerangan pembeli berikutnya,
Bisa jadi kain putih itu akan dibeli orang yang tidak kita kenal,
Bisa jadi kain putih itu kita sendiri yang membelinya untuk tetangga atau keluarga terdekat kita,
Bisa jadi seseorang sedang membelikannya untuk jenazah kita yang sedang menunggu dikubur,

Engkau boleh saja tertawa, tapi bisa jadi kain kafanmu ada di truk pengirim barang yang sedang diparkir di pinggir toko kain itu,
Engkau boleh saja berencana, tapi bisa jadi kain kafanmu sedang dipesan si pemilik toko,
Engkau boleh saja tidur nyenyak, tapi bisa jadi seorang penenun sedang memintal kain kafanmu.
Engkau boleh saja menikmati keindahan alam pertanian, tapi boleh jadi seorang petani sedang memanen kapas bahan kain kafanmu.

Kita tidak tahu kapan hidup kita berakhir,
Kita juga tidak tahu kain kafan mana yang akan menemani kita di kuburan,
Tapi yang jelas kain itu ada di suatu tempat,

Kain putih itu sendiri tidak pernah tahu kepada siapa ia akan digunakan,
Seandainya ia bisa berbicara, tentu ia akan meminta agar digunakan pada orang soleh yang selalu mempersiapkan diri untuk kehidupan berikutnya…

July 26, 2008

Garukin Kucing

Filed under: Album Foto — rizalmaslan @ 8:59 pm

Garukin Kucing

June 14, 2008

Malaikat Pelindung

Filed under: Catatan Harian — rizalmaslan @ 10:50 pm

sheela-n-my-wife.jpgOleh: Tidak Diketahui

Suatu ketika ada seorang bayi yang siap untuk dilahirkan. Maka ia bertanya kepada Tuhan, “Ya Tuhan, engkau akan mengirimkan aku ke bumi. Tapi aku takut, aku masih sangat kecil dan tak berdaya. Siapakah nanti yang akan melindungiku disana?”

Tuhanpun menjawab, “Diantara semua malaikat-Ku, Aku akan memilih seseorang yang khusus untukmu, dia akan merawat dan mengasihimu.” Si kecil bertanya lagi, “Tapi disini disurga ini aku tak berbuat apa-apa, kecuali tersenyum dan bernyanyi. Semua itu sudah cukup untuk membuatku bahagia.” Tuhanpun menjawab, “Taka apa, Malaikatmu itu akan selalu menyenandungkan lagu untukmu dan dia akan membuatmu tersenyum setiap hari. Kamu akan merasakan cinta dan kasih sayang, dan itu semua pasti akan membuatmu bahagia.” Namun Si kecil bertanya lagi, “Bagaimana aku bisa mengerti ucapan mereka, jika aku tak tahu bahasa yang mereka pakai?

Tuhanpun menjawab, “Malaikatmu itu akan membisikkanmu kata-kata yang indah, dia akan selalu sabar berada disampingmu. Dan dengan kasihnya dia akan mengajarkanmu berbicara dengan bahasa manusia. Si kecil bertanya lagi, “Lalu bagaimana jika aku ingin berbicara padamu Ya Tuhan?”

Tuhanpun kembali menjawab, “Malaikatmu itu akan membimbingmu, dia akan menengadahkan tangannya bersamamu dan mengajarkanmu untuk berdo’a.” Lagi-lagi Si kecil menyelidik, “Namun aku mendengar disana banyak sekali orang jahat, siapakah nanti yang akan melindungiku?”

Tuhanpun menjawab, “Tenang, malaikatmu akan terus melindungimu walaupun nyawa yang menjadi taruhannya. Dia sering akan melupakan kepentingannya sendiri untuk keselamatanmu.” Namun Sikecil kini malah menjadi sedih, “Tuhan tentu aku akan menjadi sedih jika tak melihat-Mu lagi.”

Tuhan menjawab lagi, “Malaikatmu akan selalu mengajarkan keagungan-Ku, dan dia akan mendidikmu bagaimana agar selalu patuh dan taat kepada-Ku. Dia akan selalu membimbingmu untuk selalu mengingat-Ku. Walau begitu aku akan selalu ada disisimu.”

Hening. Kedamaianpun kembali menerpa surga. Suara-suara panggilan dari bumi mulai sayup-sayup terdengar. “Ya Tuhan, aku akan pergi sekarang, tolong sebutkan nama dari malaikat pelingdungku itu…”

Tuhan kembali menjawab, “Nama malaikatmu itu tak begitu penting… Hanya saja kamu akan sering menyebutnya dengan panggilan: Ibu…”

May 25, 2008

DUHHHHH….BBM NAIK

Filed under: Catatan Harian — rizalmaslan @ 9:40 pm

Naik ngga naik…bbm…ya segitu-gitunya aja Hidup Manusia…..engkoh-rifa.jpg

April 7, 2008

Sabar dan Ikhlas, Itu Islam!

Filed under: Catatan Harian — rizalmaslan @ 5:42 pm

Beberapa hari lalu,  Gw terima email berisi tulisan dari seorang teman, Agustinus Kristianto, seorang Katolik sejati ngomentari Film Ayat-Ayat Cinta (ACC)… GW salin dan tuangkan dalam blog ini kembali………………………. 

RAMAi juga orang bicara tentang Ayat-Ayat Cinta (AAC). Di mana-mana: angkot, warung, sekolahan, mailing list, rumah sakit, bahkan Istana Negara. Presiden saja sampai menangis, menyeka mata berkali-kali sehabis nonton itu film. Jusuf Kalla promosi ke mana-mana kalau AAC bagus bukan kepalang. Semua dubes di Indonesia dijamu menonton AAC di bioskop. Meriah sekali sambutannya. Meriah dalam kepalaku berarti juga berlebihan.

Karena penasaran, aku juga nonton di bioskop. Sebelumnya aku baca-baca di milis, orang pandai berdiskusi tentang AAC. Ada dua yang mencuat paling ramai: soal poligami dan pindah agama. Orang berdebat sampai jontor bibirnya.

Aku sempat tanya kepada Bang Anton, komentarnya tentang AAC. Bang Anton referensi utamaku soal film. Dia bilang dua hal: pertama, AAC menjiplak theme song Taeguk dan Schindler List gubahan komponis Yahudi itzhak Perlman. Kedua, AAC itu film jelek. Aku suka gaya Bang Anton yang tetap sinis. Ketimbang komentar Presiden yang sok ‘merangkul’: “Pesannya sampai,” kata Presiden. Entah pesan apa yang ada dalam kepalanya.

Setelah aku tonton dan baca novel AAC, memang kunilai secara kualitas, film itu biasa-biasa saja. Memang, kalau membaca novelnya, masih lebih lumayan. Minimal, kualitas Habiburahman sebagai intelektual Islam terpapar. Bacaannya luas, pengalamannya kaya, gaya bahasanya berkarakter. Tapi kalau lihat filmnya, alamak, kacau balau. Yang paling lumayan adalah sudut pengambilan gambar, tapi soal jalan cerita, penokohan, karakter pemain, plot, dan rangkaian dialog, ya biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa.

Tapi tetap saja ada yang menarik perhatianku. Ini yang tak banyak dibicarakan orang. Hanya satu kalimat, tapi menuntaskan gambaran tentang mau apa film dan novel ini sesungguhnya.

Ada seorang lelaki tua, lusuh, berjanggut, yang bersama dengan Fahri di dalam penjara. Akting lelaki ini begitu teatrikal, suaranya berat berkarisma, ucapannya boleh dipuji. Tapi sayang, tokoh ini tak begitu dalam digali, tak sekali pun diberitahu dalam film, siapa nama tokoh ini, darimana ia berasal, mengapa ia begitu cerdas dalam perkataan.

“Sabar dan ikhlas, itu Islam!” kata lelaki itu.

Mau tak mau, patutlah kita merujuk pada novel AAC.

Pada bab 23 bertajuk Dalam Penjara Bawah Tanah, setidaknya tergambar ada lima orang selain Fahri yang ada di dalam bui. Dalam film, hanya ada satu orang. Salah satu dari lima orang itu bernama Abdur Rauf, yang ditangkap polisi Mesir ketika sedang menguji tesis magister. Rauf adalah guru besar ekonomi pembangunan di Universitas El-Menya.

Empat orang lainnya, dua setengah baya: Haj Rashed, kepala sekolah SD dan Imam Mesjid di Mathariyah, ditangkap karena khotbah Jumatnya yang pedas; satu lagi Marwan, petugas kereta api, yang ditangkap karena membunuh tetangganya yang menggoda isterinya. Dua anak muda: Ismail, mahasiswa Kedokteran tahun ketiga Universitas Ains Syam, yang ditangkap karena memimpin demonstrasi di kampus yang mengecam kebiadaban perdana menteri Israel Ariel Sharon yang menginjak-injak Mesjid Al Aqhsa; satu lagi, Ahmad/Hamada, tidak kuliah, lulus SLTA, bekerja di penerbit Muassasa Resala, ditangkap karena berdemonstrasi di kampus Al Azhar, menentang agresi Israel.

Bagiku menarik sekali pergulatan dalam bilik penjara itu. Latar belakang penghuninya sangat beragam. Tak perlu membaca dialog, tak perlu menonton filmnya, dari mendengar latar belakang tahanan itu saja saya sudah bisa membayangkan sebuah drama yang menarik. Persoalannya, dalam film, cuma ada satu lelaki selain Fahri. Dan celakanya lagi, dia mengucapkan kalimat menarik ketika meminta Fahri bangkit dari nestapa dan duka. Kata lelaki tua itu, “Sabar dan ikhlas, itu Islam.” Celakanya, saya kesulitan menerka, siapa di antara lima lelaki itu, yang berbicara.

Bayangkan saja. Jika kalimat itu diucapkan oleh Abdur Rauf, sang guru besar ekonomi, konsekuensi plotnya jadi menarik: bagaimana seorang profesor ekonomi bicara tentang kesabaran dan keikhlasan. Lebih jauh lagi, bisakah terbayangkan sebuah sistem ekonomi Islam yang berbasis antitesis dari ekonomi barat yang pro-angka statistik dan kapitalistik. Diskusi menarik bakal digelar.

Jika Haj Rashed yang mengucapkan, konsekuensinya menarik pula. Seorang guru SD, pengkhotbah Jumat yang ditangkap oleh polisi Mesir, bicara kesabaran dan keikhlasan. Pertanyaannya, ada apa dengan Mesir menangkap orang yang berpikiran ‘teduh’ macam Rashed ini. Apakah kesabaran dan keikhlasan itu harus mundur teratur dari peradaban Islam di sana?

Jika mahasiswa pendemo Israel yang berbicara, tak kalah menariknya. Bayangkan saja, mahasiswa yang ‘radikal’ itu bicara tentang kesabaran dan keihklasan. Apakah dengan demikian itu menyiratkan sikap seorang Muslim sejati yang sabar dan ikhlas meski dizalimi Israel? Bukankah ini diskusi menarik tentang masa depan Islam, karena ke depan, anak-anak muda ini yang akan ada di barisan depan kaum Muslim dunia.

Jika si pembunuh yang berbicara, kita akan diajak menelusuri jiwa ‘lembut’ seorang kriminal Timur Tengah. Sekaligus menyiratkan pesan bahwa, sabar dan ikhlas orang Islam itu meresap sampai rakyat jelata. Kalau benar begitu, tak akan ada persoalan dengan konflik antaretnis dan keyakinan.
Tapi, mari cek novel AAC. Kalimat Sabar dan Ikhlas, itu Islam, tak ada. Jadi saya patut memuji Hanung yang memasukkan dialog yang sangat indah itu. Lain lagi ceritanya kalau saya luput membaca dan kurang cermat melihat novel dan filmnya.

Bagi saya, yang non-Muslim ini, kalimat itu sangat indah, teduh. Agama saya pun mengajarkan kesabaran dan keikhlasan demikian. Dan saya rasa, semua ajaran yang baik akan mengajarkan hal yang sama. Dunia sekarang sedang menghadapi tantangan besar: ketergesaan, keserakahan, keterburu-buruan, materialisme membabi-buta, dan hilangnya keikhlasan sebagai sebuah pesona kemanusiaan.

Islam sendiri, di Indonesia, menghadapi tantangan kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa. Beberapa waktu lalu ada beredar film Fitna karya Geert Wilders yang dicaci-maki, ada kasus Ahmadiyah yang diserang kelompok tertentu. Dan Indonesia, sebagai negara di dunia dengan populasi Islam terbesar, saya kira menghadapi persoalan besar lainnya: kemiskinan dan kebodohan, yang mudah-mudahan tak diselesaikan dengan politisasi kesabaran dan keikhlasan ala penguasa picik, tapi harus ditemukan solusi konkritnya.

Sayang sekali, tokoh pengucap sabar dan ikhlas itu dipinggirkan dalam film. Tak digali lebih dalam. Sayang sekali. Harusnya ia diberi bingkai, dikasih konteks, dan sapuan plot cerita yang bagus, supaya konteks kalimat itu mengena dengan pesan ke-Islaman yang universal, bermartabat, dan menghargai kemanusiaan. Sebab, bagi saya, persetan dengan perdebatan tentang poligami dan pindah agama dalam AAC. Itu sama sekali tidak penting. Sekali lagi, TIDAK PENTINGGG…!

Depok, 6 April 2008

March 26, 2008

“Hadiah Sang Ayah Kepada Anaknya…”

Filed under: Catatan Harian — rizalmaslan @ 11:30 pm

Beginiloh ceritanya…
ada seorang anak yang sesaat lagi mau melangsungkan wisudanya, RiFa ama sHeEladia seorang anak tunggal dari keluarga yang berkecukupan, Ayah dari anak ini sangat sayang dan cinta kepada anaknya yg satu2 nya oleh karena itu apapun yg diinginkan oleh sang anak maka sang ayah pun memberinya

pada saat sang anak akan di wisuda, sang anak pun bercita2 ingin di belikan hadiah sebuah mobil sport merek ford keluaran terbaru pada saat itu, dia sangat menginginkan hadiah tersebut sampai2 dia sering lewat di depan showroom tempat dimana mobil itu dijual dan dia pun yakin bahwa ayah nya akan membelikan mobil tersebut.

Tiba saat sang anak diwisuda pada hari wisuda pada saat itu sang ayah sangat bangga anak nya telah berhasil diwisuda sampai air mata sang ayah berlinang melihat anaknya sudah sukses. sang anak pun dengan penuh harap bahwa sang ayah akan memberikan hadiah yg dia inginkan.

setelah acara wisuda kemudian sang ayah mendekati anak nya dengan bangga kemudian ayah nya memeluk dan mencium anak nya dengan air mata berlinang sang ayah berkata “anakku ayah sangat bangga kepadamu”
kemudian sang ayah pun memberikan sebuah bungkusan kepada anak nya tersebut lalu dengan penuh semangat sang anak menerima bungkusan tersebut dengan harapan hadiah yg akan diterima adalah mobil ford yg dia idam2kan.

kemudian hadiah tersebut langsung di buka, dan ternyata bungkusan tersebut adalah sebuah Al-Qur’an yang disampul depannya tertera nama sang anak dengan goresan tinta emas bukannya sebuah kunci mobil yg selama ini dia inginkan. lalu sang ayah berkata “anakku ayah sangat sayang dan cinta kepadamu, ayah jg bangga kepadamu”

kemudian sang anak sangat marah kepada ayah nya kemudian sang anak berkata dengan nada tinggi kepada ayah nya “ayah memang sayang kepadaku, bangga kepadaku, tetapi ayah tidak mau mengerti dan memberi apa yg aku inginkan” lalu setelah dia berkata begitu,dia membanting Al-Quran tersebut dan meninggalkan ayahnya hingga dia tidak mau menemui ayahnya lg

setelah beberapa tahun kemudian,sang anak pun kini menjadi orang yg terpandang dia mempunyai rumah yg sangat mewah,mempunyai istri dan anak2 yg cantik2 dan ganteng2 tetapi dia tidak pernah sekali pun menjenguk ayahnya sejak kejadian waktu itu.

pada suatu hari datanglah surat dari pengadilan yg isi surat itu mengatakan agar dia mengurus harta warisan ayah nya karena ayah nya sudah meninggal. kemudian dia bergegas menuju rumah sang ayah dan mengemas barang2 yg ada di rumah itu lalu dia pun sedih mengingat masa kecil nya bersama sang ayah dirumah tersebut.

pada saat dia sedang membereskan barang2,dia mendapatkan sebuah bungkusan yg sama persis seperti bungkusan yg diberikan ayahnya kepadanya pada waktu dia diwisuda dan bungkusan itu masih terbungkus rapi sama pada saat sebelumnya. kemudian dibukanya bungkusan itu dan isinya masih sama yaitu Al-Qur’an dengan sampul yg tertera namanya dengan tinta emas, kemudian dia membuka halaman berikutnya dan dia menemukan tulisan dengan tinta emas yg bunyinya;

“anakku,betapa bangganya ayah kepadamu dan betapa sayang nya ayah kepadamu” lalu tiba2 jatuh sesuatu dari buku itu pada saat dia membuka halaman berikutnya dan ternyata adalah sebuah kunci mobil yg tertera merek ford dan dihalaman akhir Al-Qur’an tersebut ada surat2 kelengkapan mobil ford tersebut atas nama sang anak dan lengkap dengan kuitansi pembelian sehari sebelum dia di wisuda.

Melihat itu semua sang anak kemudian menangis, lalu dia melangkah ke garasi mobil disana dia melihat sebuah mobil yg telah tertutup debu yg tebal, namun walaupun sudah tertutup debu mobil tersebut masih terlihat bagus,mobil itu adalah mobil ford yg sama persis dengan mobil yg dilihatnya di showroom mobil ford, kemudian dia membersihkan debu tersebut. Kemudian dia terduduk lemas didalam mobil yg jok nya masih terbungkus plastik, kemudian dia menangis tiada henti dan sangat menyesal setelah apa yg terjadi pada saat dia wisuda dan dia tidak menjenguk ayahnya sedikitpun hingga ajal ayahnya tiba..
Semoga kita bisa merenungi makna yang tersirat dari kisah diatas…

March 14, 2008

Tour of Duty at Atjeh

Filed under: Album Foto — rizalmaslan @ 11:47 pm

Liputan DM di Nanggroe Atjeh Darussalam

Foto Pemburu

Filed under: Album Foto — rizalmaslan @ 8:18 pm

Soeharto Hunter

CERITA DARI GUNUNG

Filed under: Catatan Harian — rizalmaslan @ 8:15 pm

Pusa2 enak juga ngeroko yeh…Seorang bocah mengisi waktu luang dengan kegiatan mendaki gunung bersama ayahnya. Entah mengapa, tiba-tiba si bocah tersandung akar pohon dan jatuh. “Aduhh!” jeritannya memecah keheningan suasana pegunungan. Si bocah amat terkejut, ketika ia mendengar suara di kejauhan menirukan teriakannya persis sama, “Aduhh!”.

Dasar anak-anak, ia berteriak lagi, “Hei! Siapa kau?” Jawaban yang terdengar, “Hei! Siapa kau?” Lantaran kesal mengetahui suaranya selalu ditirukan, si anak berseru, “Pengecut kamu!” Lagi-lagi ia terkejut ketika suara dari sana membalasnya dengan umpatan serupa.

Ia bertanya kepada sang ayah, “Apa yang terjadi?” Dengan penuh kearifan sang ayah tersenyum, “Anakku, coba perhatikan.” Lelaki itu berkata keras, “Saya kagum padamu!” Suara di kejauhan menjawab, Saya kagum padamu!” Sekali lagi sang ayah berteriak “Kamu sang juara!” Suara itu menjawab, “Kamu sang juara!” Sang bocah sangat keheranan, meski demikian ia tetap belum mengerti. Lalu sang ayah menjelaskan, “Suara itu adalah gema, tapi sesungguhnya itulah kehidupan.”
======
Kehidupan memberi umpan balik atas semua ucapan dan tindakanmu. Dengan kata lain, kehidupan kita adalah sebuah pantulan atau bayangan atas tindakan kita. Bila kamu ingin mendapatkan lebih banyak cinta di dunia ini, ya ciptakan cinta di dalam hatimu.Bila kamu menginginkan tim kerjamu punya kemampuan tinggi, ya tingkatkan kemampuan itu. Hidup akan memberikan kembali segala sesuatu yang telah kau berikan kepadanya. Ingat, hidup bukan sebuah kebetulan tapi sebuah bayangan dirimu.

Powered by WordPress