MERDEKA………..!!!
Merdeka..!!! Pekik para pejuang kemerdekaan di tahun 1945 selalu kita ingat menjelang peringatan Hari Proklamasi 17 Agustus. Semua orang, yah yang pasti yang masih merasa sebagai orang Indonesia beragam menyikapi hari kemerdekaan ini, ada yang sibuk mengisi berbagai acara bahkan ada yang super cuek nggak ngapa-ngapain, malah ada yang lupa hari kemerdekaan hehehe…kali!!
Ada cerita agak mengesankan bagi, saya dan teman-teman tentang pekik “Merdeka…!!!” ini. Ceritanya di tahun 2003 silam, tepatnya antara bulan Mei sampai Juni, saya dan sejumlah jurnalis ibukota di kirim ke Nanggroe Aceh Darussalam guna meliput ‘konflik’ jarak dekat dengan diberlakukannya Darurat Militer.
Pekik ‘Merdeka’ itu punya makna lain di wilayah yang katanya “Serambi Mekah” itu. Hampir dua bulan suasana ‘konflik’ kalau tak mau disebutkan ‘perang’ di sana, kita malah justru harus hati-hati memekikan kata ‘Merdeka…!’ hehehe….puluhan ribu tentara (TNI) dan Polri disebar di seluruh pelosok Aceh.
Setiap jengkal jalanan, kira-kira setiap 1 km berdiri pos-pos TNI dan Polri. Di pos-pos itu banyak diisi prajurit yang mengenakan pakaian loreng, rompi anti peluru, helm baja dan lengkap membawa senjata laras panjang SS1, M16 atau M5 minimi, atau GLM….ya mirip liat film perang vietnam “tour of duty” or perang di timur tengah.
Bagi sebagian dari kita mungkin kehidupan yang serba menegangkan dan penuh tekanan ini nggak nyaman. Ngak senyaman hidup di Jakarta yang tentram, damai dan hiruk pikuk kehidupan yang dibilang 24 jam ini. Di Aceh, orang sudah lengang sejak siang, semakin kayak kuburan kalo malamnya hehe….(ini saat Darurat Militer).
Sebenarnya bayangan itu ternyata tidak benar 100 persen, toh kita masih nyaman untuk jalan-jalan, walau hilir mudik kendaraan tempur di jalanan. Bang Halim asli Bireuen mengatakan, “Tak usah takut, lambaikan saja tangan, pasti aman,” jelasnya.
Ya praktis selama tugas jurnalistik di sana, setiap papasan dengan tentara dan polisi di pos-pos itu kita melambaikan tangan…biasanya, mereka membalasnya dengan senyum…ya sekedar membuat mereka tersenyum, kita harus berkorban menempelkan tangan di kaca mobil atau mengeluarkan lengan menyapa.
Singkat kata, ini sudah menjadi kebiasaan kita di sana…tanpa ba bi bu lagi, begitu liat dan yang memiliki inisiatif secara sepontan melambaikan tangan. Ada yang lucu sebenarnya, saat itu kita (saya, Ade yang saat itu wartawan the Jakarta Pos/sekarang di Van Jorg Magazine, Heru KompasCyber, Citra Radio68H dan Alex Suban Suara Pembarua dan Bertho) asyik mengobrol dan melucu sepanjang perjalanan saat pulang dari Pidie menuju Lhokseumawe.
Entah karena asyik ngobrol dan bercanda, kita nggak perhatikan banyak tentara yang bergerombol di sepanjang jalan dan pematang sawah. Tiba-tiba bang Halim teriak ada tentara…tentunya kita terkejut dan repleks kita langsung melambaikan tangan.
Namun Ade tak hanya melambaikan tangan tapi juga langsung teriak dengan pedenya kata “Merdeka” itu. Saat itu, sejumlah prajurit TNI yang hendak membalas lambaian tangan itu, malah celangak-celingkuk dan saling pandang.
Tangan mereka yang tadinya mau diangkat untuk membalas lambaian tak jadi dilakukan. Raut wajah para ‘PAI’ (sebutan orang Aceh, khususnya GAM kepada anggota TNI) terlihat bingung. Heru langusng nyeletuk…”Ade begooo…” sambil terkekeh-kekeh…semua yang ada di dalam mobil ketawa kecut, apalagi beberapa tentara menghampiri untuk menyelidiki.
“Ayo salah ya….Merdeka, emang kita GAM,” ujar salah seorang anggota TNI yang kita tahu dari tanda pangkatnya mungkin komandan kompi. Memang kita baru ingat, kata “merdeka’ di aceh menjadi lain, mungkin tabu diucapkan secara sembarangan, maklum biasanya yang mengucapkan kata itu akan dicap “pendukung pemberontak”.
“Aduuuhh…maaf Pak, lupa kalau kita lagi di Aceh,”…kata si Ade…melihat sikap cewek satu ini kita malah tertawa sepuasnya…”Yo wis ora opo-opo mbak…maklum, kita aja mau balas bingung, mau kemana emang?” tanya perwira itu.
“Pulang ke Lhok Pak,” jawab kami serempak.
“Ya udah, silakan jalan, ati-ati. Kalau ada GAM kasih tau kita,” pintanya lagi sambil tersenyu….”Siap.>!!” teriak kami serempak sambil tertawa lagi….akhirnya tentara2 itu pun melambaikan tangan secara penuh…

